30 Mar 2015

IMAN SEBAGAI SUMBER NILAI


  1. IMAN
Pengertian iman dari bahasa Arab yang artinya percaya. Sedangkan menurut istilah, pengertian iman adalah membenarkan dengan hati, diucapkan dengan lisan, dan diamalkan dengan tindakan (perbuatan). Dengan demikian, pengertian iman kepada Allah adalah membenarkan dengan hati bahwa Allah itu benar-benar ada dengan segala sifat keagungan dan kesempurnaanNya, kemudian pengakuan itu diikrarkan dengan lisan, serta dibuktikan dengan amal perbuatan secara nyata.
Jadi, seseorang dapat dikatakan sebagai mukmin (orang yang beriman) sempurna apabila memenuhi ketiga unsur keimanan di atas. Apabila seseorang mengakui dalam hatinya tentang keberadaan Allah, tetapi tidak diikrarkan dengan lisan dan dibuktikan dengan amal perbuatan, maka orang tersebut tidak dapat dikatakan sebagai mukmin yang sempurna. Sebab, ketiga unsur keimanan tersebut merupakan satu kesatuan yang utuh dan tidak dapat dipisahkan.

  • IMAN SEBAGAI SUMBER NILAI
Manusia memerlukan kepercayaan sebagai sumber atau titik ideal dalam hidupnya. Titik ideal sebagai sumber nilai, menjadi titik nilai yang baku atau konstan. Nilai sebagai penopang kehidupan manusia dan peradaban manusia tidak boleh berubah,jika nilai ini berubah maka sama halnya dengan fondasi rumah yang dirubah, secara reaktif maka rumah itu akan rubuh dan pola rumah itu akan berubah.
Sebagai sumber nilai, maka sesuatu itu harus tidak berubah, menjadi sumber segala nilai dan esa, serta secara bersamaan merupakan kebenaran hakiki. Sumber nilai tersebut adalah Tuhan, karena sifat Tuhan yang tidak berubah dan menjadi satu titik kebenaran itu sendiri. Tuhan adalah subjek bagi sekalian alam dan dunia, sedang alam adalah objek yang digerakkan melalui kehendak berpikir bebas. Kehendak berpikir bebas hanya dimiliki manusia,dipandang dalam segi biologi, manusia termasuk dalam klasifikasi homo sapiens (yang memiliki arti "manusia yang tahu") yang merupakan primata dalam golongan mamalia yang memiliki kemampuan berpikir tinggi (Wikipedia, 2014). Tan Malaka dalam Madilog, mengartikan manusia lebih sederhana, yaitu hewan yang berakal. Dua pengertian diatas mengisyaratkan bahwa manusia merupakan kesempurnaan atas penciptaan Tuhan di bumi, hal ini sesuai dengan konsep Islam bahwa manusia diturunkan sebagai Khalifah di muka bumi (Lihat: Al Quran 2: 30). Dalam segi rohani yang berkorelasi dengan kebudayaan, bahwa manusia adalah pembawa peradaban dengan ke"agama"an yang dibawahnya. Agama disini berarti kepercayaan, yang dijadikan sumber nilai tersebut.
Agama sebagai pedoman, sering juga agama sebagai peradaban yang ekslusif. Agama menjadi pengikat atas cara-cara yang dianggap paling mendekatkan pada kebenaran, maka tidak jarang pertentangan dan konfrontasi agama-agama yang memiliki kencenderungan yang sama dan berbeda sekaligus. Agama sebagai peletak peradaban menjadi penting karena dalam agama aspek kultur dan doktrin menjadi satu, hingga muncul peradaban seperti Islam Syah, Protestan dan lain sebagainya.
Sebaga upaya pendekatan diri pada kebenaran, bentuk kepercayaan atau iman juga tidak jauh dari pandangan keagamaan tentang konsep ke-Tuhan-nan itu sendiri. Dalam kajian filsafat yang mengunakan metode rasio, mengalami kebuntuhan tentang rasio yang mencoba mendiskripsikan tuhan. Al Ghazali membawa suatu perubahan pada semangat metafisika, peletak atas keterbatasan rasio pada kebenaran hakiki tersebut. Maka agama memang tidak jauh dari doktrin, namun manusia yang memiliki keutamaan dalam berpikir memberikannya ruang pada pencarian-pencarian pada segi ontologis tersebut.
Dalam Islam, bahwa manusia sudah memiliki kepercayaan pada Tuhan sejak masa tiga bulan dalam kandungan, ikatan primodial ini termaktub dalam Al Quran. Sedang Karel Amstrong mengatakan bahwa sejak 4.300 tahun yang lalu manusia sudah menyadari bahwa ada kekuatan yang melebihi apapun di dunia ini. Cara berkepercayaan itupun muncul dalam bentuk mitologi, hingga dalam bentuk kebatinan.
Tentu sangat tidak mungkin bahwa manusia akan mampu mengetahui sesuatu yang melebihi batas kemampuannya, maka harus ada penghubung, dan Tuhan sebagai subjek atas dunialah yang semestinya mengenalkan Dia pada objeknya. Pengenalan ini dalam sejarah tiga agama besar - dan hampir memiliki kemiripan sejarah atau masih satu rumpun - melalui pembawa pesan sebagai mediator, fungsi ini dipegang oleh para nabi atau rasul. Hingga tidak ada upaya pengambaran Tuhan secara mitologi.
Pengambaran Tuhan secara mitologi, seperti memnyerupakan bentuk Tuhan dengan benda-benda yang menjadi objeknya, akan menunjukan bahwa tuhan lemah, karena Tuhan sebagai subjek penciptakaan yang "diserupakan" dengan objek yang diciptakan-Nya. Dalam pegabaran ini menimbulkan suatu paradigma yang kontradiktif dengan keadaan Tuhan, pendangan ini salah dan jelas pandangan ini menimbulkan suatu distorsi tentang keyakinan yang menimbulkan nilai yang menjadi sumber kebenaran.
Rasul dan Nabi menjadi pembawa pesan dan memberikan peringatan tentang kesalahan penafsiran atas kebenaran, hingga tidak ada fitnah diantara yang lain, kebenaran hanya tertuju pada ke-Esa-an Tuhan semata. Maka sikap percaya harus berlandaskan pada kebenaran yang pendekatan yang tidak bertentangan dengan nilai-nilai yang ada, dari situ peradaban manusia akan tercipta dan bernilai.


No comments:

Translate