17 Jun 2014

sejarah turungnya Al-Qur'an

 

A.  Latar Belakang Masalah
Quran menurut Dr. Subhi Al Salih berarti "bacaan". Sedangkan dari segi kebahasaan, sesuatu yang dibaca berulang-ulang". Kata Al-Qur’an adalah bentuk kata benda (masdar) dari kata kerja qara'a yang artinya membaca. Al Qur’an diturunkan secara beransur-ansur dalam masa 22 tahun 2 bulan 22 hari atau 23 tahun, 13 tahun di Mekkah dan 10 tahun di Madinah. Al-Quran adalah wahyu yang diturunkan dari langit oleh Allah SWT kepada Nabi Muhammad SAW melalui malaikat Jibril a’s. Sejarah penurunannya selama 23 tahun secara berangsur-angsur telah memberi kesan yang sangat besar dalam kehidupan seluruh manusia. Al- quran diturunkan dalam 2 periode yaitu periode mekkah dan periode madinah. Sejarah kodifikasi Al- quran diturunkan dari zaman Rasullah SAW , zaman Khalifah Abu Bakar as Sidiq, zaman khalifah Umar bin Khatab, zaman khalifah Usman bin. Al-Qur’an sebagai kitab suci terbesar telah menyedot perhatian banyak orang. Dalam pandangan umat islam, al-Qur’an merupakan teks yang diwahyukan Allah SWT kepada nabi Muhammad sebagai pedoman dan petunjuk bagi manusia. kitab suci ini diturunkan untuk menjawab persoalan-persoalan nyata yang muncul di tengah kehidupan manusia. Ia adalah kitab bacaan yang mendapatkan kedudukan istimewa.
B.  Rumusan Masalah
1.      Bagaimana proses penurunan Al-qur’an dari masa ke masa?
2.      Apa faktor pendorong adanya penulisan Al-Qur’an?
BAB II
TINJAUAN UMUM SEJARAH AL-QUR’AN
C.     Pengertian al-qur’an
Quran menurut Dr. Subhi Al Salih berarti "bacaan". Sedangkan dari segi kebahasaan, sesuatu yang dibaca berulang-ulang". Kata Al-Qur’an adalah bentuk kata benda (masdar) dari kata kerja qara'a yang artinya membaca. AL-Quran di turunkan dalam tempo 22 tahun,2 bulan,222 hari,yaitu mulai malam 17 Ramadhan tahun 41 dari kelahiran Nabi Muhammad SAW,sampai 9 Dzulhijjah Haji Wada’ tahun 63 dari kelahiran Nabi atau tahun 10 H. Al-Qur’an sebagai kitab suci terbesar telah menyedot perhatian banyak orang. Dalam pandangan umat islam, al-Qur’an merupakan teks yang diwahyukan Allah SWT kepada nabi Muhammad sebagai pedoman dan petunjuk bagi manusia. kitab suci ini diturunkan untuk menjawab persoalan-persoalan nyata yang muncul di tengah kehidupan manusia. Ia adalah kitab bacaan yang mendapatkan kedudukan istimewa.
D.  Hikmah Diturunkan Al-Quran Secara Beransur-Ansur
Al Qur’an diturunkan secara beransur-ansur dalam masa 22 tahun 2 bulan 22 hari atau 23 tahun, 13 tahun di Mekkah dan 10 tahun di Madinah. Hikmah Al Qur’an diturunkan secara beransur-ansur itu ialah:
1. Agar lebih mudah difahami dan dilaksanakan. Orang tidak akan melaksanakan suruhan, dan larangan sekiranya suruhan dan larangan itu diturunkan sekaligus banyak. Hal ini disebutkan oleh Bukhari dan riwayat ‘Aisyah r.a.
2. Di antara ayat-ayat itu ada yang nasikh dan ada yang mansukh, sesuai dengan permasalahan pada waktu itu. Ini tidak dapat dilakukan sekiranya Al Qur’an diturunkan sekaligus. (ini menurut pendapat yang mengatakan adanya nasikh dan mansukh).
3. Turunnya sesuatu ayat sesuai dengan peristiwa-peristiwa yang terjadi akan lebih mengesankan dan lebih berpengaruh di hati.
4. Memudahkan penghafalan. Orang-orang musyrik yang telah menayakan mengapa Al Qur’an tidak diturunkan sekaligus.
E. Penulisan Al-Qur’an Pada Masa Rasulullah dan Khulafa’     Ar-Rasyidin
1.      Penulisan Al-Qur’an Pada Masa Rasulullah
Pada masa ini Rasulullah mengangkat beberapa orang untuk dijadikan sebagai jurutulis, diantaranya Abu Bakar, Umar, Utsman, Ali, Zaid bin Tsabit dan lain-lain. Tugas mereka adalah merekam dalam bentuk tulisan semua wahyu yang diturunkan kepada Rasulullah. Alat yang digunakan masih sangat sederhana. Para sahabat menulis Al-Qur’an pada ‘usub (pelepah kurma), likaf (batu halus berwarna putih), riqa’ (kulit), aktaf (tulang unta) dan aqtab (bantalan dari kayu yang biasa dipakai dipunggung unta).
Untuk menghindari kerancuan akibat bercampuraduknya ayat-ayat Al-Qur’an dengan yang lainnya, misalnya hadits Rasulullah, maka beliau tidak membenarkan seorang sahabat manulis apa pun selain Al-Qur’an. Larangan ini dipahami oleh Dr. Adnan Muhammad Zarzur sebagai suatu usaha yang sungguh-sungguh untuk menjamin nilai akurasi Al-Qur’an.[1] Setiap kali turun ayat Al-Qur’an Rasulullah memanggil jurutulis wahyu. Kemudian Rasulullah berpesan, agar meletakkan ayat-ayat yang turun itu disurat yang beliau sebutkan.
2.      Penulisan Al-Qur’an Pada Masa Khulafa’ Ar-Rasyidin
a.      Pada Masa Abu Bakar
Pada dasarnya, seluruh Al-Qur’an sudah ditulis pada waktu Nabi masih hidup. Hanya saja surat-surat dan ayat-ayatnya ditulis dengan terpencar-pencar. Orang yang pertama kali menyusun Al-Qur’an adalah Abu Bakar Ash-Shiddiq. Pada saat kepemimpinan Abu Bakar terjadi masalah berat, diantaranya mengenai pengakuan Nabi baru yang menimbulkan pertikaian dan sedikitnya 700 hafidz Al-Qur’an gugur. Hal itu merupakan bahaya besar yang dapat mengancam kelestarian Al-Qur’an. Maka hal itu harus segera diatasi. Setelah Umar melihat langsung pertikaian tersebut dan ia segera menemui Abu Bakar, agar berkenan untuk mengumpulkan Al-Qur’an dari berbagai sumber, baik yang tersimpan dalam hapalan dan dalam tulisan.
Kemudian Setelah peristiwa tersebut, Zaid bin Tsabit (seorang jurutulis wahyu) diminta bertemu dengan Abu Bakar untuk membantu dalam pengumpulan Al-Qur’an. Zaid bin Tsabit pun setuju dalam membantu pengumpulan dan penulisan al-qur’an. Dalam melaksanakan tugasnya, Zaid menetapkan kriteria yang ketat untuk setiap ayat yang dikumpulkannya. Ia tidak menerima ayat yang hanya berdasarkan hafalan, tanpa didukung tulisan.[2] Sikap kehati-hatian Zaid tersebut berdasarkan pesan Abu bakar kepada Zaid dan Umar.
Pekerjaan yang dibebankan kepundak Zaid dapat diselesaikan dalam waktu kurang lebih satu tahun, pada tahun 13 H. Dibawah pengawasan abu bakar, umar dan tokoh sahabat lainnya.[3] Tidak syak lagi ketiga tokoh yang telah disebut-sebut dalam mengumpulan al-qur’an pada masa Abu bakar, yakni Umar yang terkenal dengan terobosan-terobosan jitunya menjadi pencetus ide, Zaid mendapatkan kehormatan karena di percaya untuk mengumpulkan kitab suci Al-qur’an yang memerlukan kejujuran, kecermatan, dan kerja keras. Khalifah Abu bakar sebagai decision maker menduduki porsi tersendiri.
Setelah sempurna, berdasarkan musyawarah tulisan al-qur’an yang sudah terkumpul itu dinamakan “mushaf”.
b.      Pada masa utsman bin Affan
Dalam menetapkan bentuk al-quran menyiratkan bahwa perbedaan-perbedaan serius dalam qira’at ( cara membaca ) al-qur’an, perselisihan tentang bacaan al quran muncul dikalangan tentara tentara muslim yang sebagian direkrut dari siria dan sebagian lagi dari irak. Khalifah berumbuk dengan para sahabat senior nabi dan akhirnya menugaskan zaid bin tsabit “ mengumpulkan” al-quran. Bersama zaid, ikut bergabung tiga anggota keluarga mekkah terpandang: “ abdullah bin zubair, sa’id bin Al-‘ish dan Abd Ar-Rahma bin Al-harits.
Prinsip yang mereka ikuti dalam menjalankan tugas bahwa dalam kasus kesulitan bacaan, dialek quraisy- suku dari mana nabi berasal harus dijadikan pilihan. Al quran direvisi dengan nabi berasal dan dibandingkan dengan suhuf yang berada ditangan hafshah. Dengan demikian suatu naskah otoriatif ( absah ) al quran disebut mushaf “ ustmani, telah ditetapkan. Sejumlah salinan dibuat dan dibagikan ke pusat-pusat utana daerah islam.
‘utsman memutuskan agar mushaf-mushaf yang beredar adalah mushaf-mushaf yang memenuhi persyaratan sebagai berikut:
a.       Harus terbukti mutawatir, tidak ditulis berdasarkan riwayat ahad.[4]
b.      Mengabaikan ayat yang bacaannya dinasakh dan ayat tersebut tidak diyakini dibaca kemabli dihadapan nabi pada saat – saat terakhir.
c.       Kronologis surat dan ayat seperti yang sekarang ini, berbeda dengan mushaf Abu bakar yang susunan suratnya berbeda dengan mushaf Utsman
d.      Sistem penulisan yang digunakan mushaf mampu mencakupi qira’at yang berbeda dengan lafazh-lafazh al-qur’an ketika turun
e.       Semua yang bukan termasuk al-qur’an dihilangkan
F.     Penyempurnaan Al-Quran Setelah Masa Khalifah
                  Mushaf yang ditulis perintah’utsman tidak memiliki harakat dan tanda titik sehingga dapat dibaca dengan salah satu qira’at yang tujuh. Setelah banyak orang non-arab memeluk islam, mereka merasa kesulitan membaca mushaf yang tidak berharakat dan bertitik itu. Dua tokoh yang berjasa dalam hal ini yaitu “ubaidillah bin Ziyad ( w.67 H ) dan hajjaj bin yusuf ats.Tsaqafi ( w. 95 H. ). Ibn Ziyad diberitakan memerintahkan seorang lelaki dari persia untuk meletakkan alif sebagai pengganti dari huruf yang dibuang. Adapun al – hajjaj melakukan penyempurnaan terhadap mushaf ‘ utsmani pada sebelas tempat yang karenanya membaca mushaf lebih mudah.[5]
        Penyempurnaan itu tidak berlangsung sekaligus, tetapi bertahap dilakukan oleh generasi sampai abad III H. Tercatat tiga nama yang disebut-sebut sebagai orang yang pertama kali meletakan tanda titik pada mushaf ‘utsmani.
       Upaya penulisan al-quran dengan tulisan yang bagus merupakan upaya lain yang telah dilakukan generasi terdahulu. Untuk pertama kalinya, al-quran dicetak di Bunduqiyyah pada tahun 1530 M, tetapi begitu keluar, penguasa gereja mengeluarkan perintah pemusnahan kitab suci Jerman bernama Hinkleman pada tahun 1694 M  di Hambung ( Jerman ). Disusul kemudian oleh Marracci pada tahun 1698 M. Di Padoue. Tak satupun dari al-qur’an cetakan pertama, kedua, maupun ketiga itu yang tersisa di dunia islam. Perintis penerbit al-qur’an pertama yaitu dari kalangan bukan muslim.
            Penerbitan al-qur’an dengan lebel islam baru dimulai pada tahun 1787. Yang menerbitkannya adalah Maulaya Utsman. Mushaf cetakan itu lahir di Saint-Petersbourg, Rusia atau Leningrad, Uni soviet sekarang. Di negara arab, raja Fuad dari mesir membentuk panitia khusus menerbitan al-qur’an diperempatan pertama abad XX. Panitia yang dimotori para syekh Al-azhar ini pada tahun 1342 H/ 1932 M. Berhasil menerbitan mushaf al-qur’an cetakan yang bagus. Mushaf yang petama terbit dinegara Arab ini dicetak sesuai dengan riwayat Hafsah atau qira’at ‘ashim. Sejak itu, berjuta-juta mushaf dicetak dimesir dan berbagai negara.[6]
G. Pendapat tentang Rasm Al-Qur’an  Menurut Para Ulama
1.      Sebagian dari mereka berpendapat bahwa rasm ‘Utsmani itu bersifat tauqifi, yakni bukan produk budaya manusia yang wajib diikuti siapa saja ketika menulis Al-Qur’an . Mereka merujuk pada sebuah riwayat yang menginformasikan bahwa Nabi pernah berpesan kepada Mu’awiyah, salah seorang sekretarisnya,[7]
“Letakkanlah tinta. Pegang pena baik-baik. Luruskan huruf ba’. Bedakan huruf sin. Jangan butakan huruf mim. Buat baguslah (tulisan) Allah. Panjangkan (tulisan) Ar- Rahman dan buatlah bagus (tulisan) Ar-Rahim. Lalu, letakkan penamu diatas telinga kirimu, karena itu akan membuatmu lebih ingat”.
Namun Al-Qaththani berpendapat bahwa tidak ada satu riwayat pun dari Nabi yang bisa dijadikan alasan untuk menjadikan rasm’Utsmani menjadi tauqifi.[8] Rasm ‘Utsmani murni merupakan kreatif panitia atas persetujuan ‘Utsman.
Subhi Shalih juga mengatakan ketidaklogisan rasm ‘Utsmani disebut-sebut tauqifi. Karena huruf-huruf tahajji itu status Qurannya mutawatir. Akan tetapi, istilah rasm ‘Utsmani baru lahir pada masa pemerintahan ‘Utsman. ‘Utsman yang menyetujui penggunaan istilah itu, bukan Nabi.[9]
2.      Sebagian besar ulama berpendapat bahwa rasm ‘Utsmani bukan tauqifi, tetapi merupakan kesepakatan cara penulisan yang disetujui ‘Utsman dan diterima umat, sehingga wajib diikuti dan ditaati siapa pun yang menulis Al-Qur’an. Tidak boleh ada yang menyalahinya.
3.      Sebagian dari mereka berpendapat rasm ‘Utsmani bukanlah tauqifi. Tidak ada halangan yang menghalanginya tatkala suatu generasi sepakat menggunakan cara tertentu untuk menulis Al-Qur’an yang berlainan dengan rasm ‘Utsmani. Sunnah menunjukan bolehnya menuliskannya (mushaf) dengan cara bagaimana saja yang mudah. Sebab, Rasulullah dahulu menyuruh menuliskannya tanpa menjelaskan kepada mereka bentuk (tulisan) tertentu.
H. Pendapat Ibnu Qutaybah Mengenai Qira’at
Ibnu Qutaybah telah meringkas perbedaan qira’at ke dalam tujuh segi, yaitu sebagai berikut :
1.      Perbedaan dalam segi I’rab kata, yang tidak menghilangkan bentuknya dan tidak mengubah maknanya.
2.      Perbedaan yang terdapat pada segi i’rab kata dan pada harakatnya, yang dapat menimbulkan perubahan makna, tetapi tulisannya tetap.
3.      Perbedaan yang terjadi pada huruf kata, bukan pada segi i’rabnya, yang dapat melakukan perubahan makna, tetapi bentuk tulisannya tetap.
4.      Perbedaan yang terjadi pada kata yang dapat menimbulkan perubahan bentuk tulisan, tetapi maknanya tetap.
5.      Perbedaan yang terjadi pada kata, yang dapat menimbulkan perubahan makna dan bentuk tulisan.
6.      Perbedaan yang terjadi karena taqdim dan takhir (mendahulukan dan mengakhirkan kata).
7.      Perbedaan yang terjadi karena terdapat tambahan dan kekurangan.
I.                  Kaitan Rasm Al-Qur’an dengan Qira’at
Mushaf ‘Utsmani tidak berharakat dan bertitik ternyata masih membuka peluang untuk membacanya dengan berbagai qira’at (cara membaca Al-Qur’an). Hal itu dibuktikan dengan masih terdapatnya keragaman cara membaca Al-Qur’an walaupun setelah muncul mushaf ‘Utsmani, seperti qira’at tujuh , qira’at sepuluh, qira’at empat belas. Kenyataan itulah yang mengilhami Ibn Mujahid untuk melakukan penyeragaman cara membaca Al-Qur’an dengan tujuh cara saja (qira’ah sab’ah).
g
BAB III
ANALISA PEMBAHASAN
Al Qur’an diturunkan secara beransur-ansur dalam masa 22 tahun 2 bulan 22 hari atau 23 tahun, 13 tahun di Mekkah dan 10 tahun di Madinah. Sebagai umat Islam, kita haruslah berpegang kepada Al-Quran dengan membaca, memahami dan mengamalkan serta menyebarluas ajarannya. Bagi mereka yang mencintai dan mendalaminya akan mengambil iktibar serta pengajaran, lalu menjadikannya sebagai panduan dalam meniti kehidupan dunia menuju akhirat yang kekal abadi. Pada permulaan Islam, kebanyakan orang bangsa Arab Islam adalah bangsa yang buta huruf, amat sedikit di antara mereka yang tahu menulis dan membaca. Mereka belum mengenal kertas seperti kertas yang ada sekarang. Perkataan “al waraq” (daun) yang digunakan dalam mengatakan kertas pada masa itu hanyalah pada daun kayu saja. Kata “al qirthas” digunakan oleh mereka hanya merujuk kepada benda-benda (bahan-bahan) yang mereka pergunakan untuk ditulis seperti kulit binatang, batu yang tipis dan licin, pelepah tamar tulang binatang dan sebagainya. Sesudah wafatnya Nabi Muhammad barulah mereka mengetahui kertas. Orang Persia menamakan kertas itu sebagai “kaqhid”. Walaupun kebanyakkan bangsa Arab Islam pada masa itu masih buta huruf, namun mereka mempunyai ingatan yang amat kuat. Memelihara dan meriwayatkan syair-syair dari pujangga-pujangga dan penyair-penyair mereka, peperangan-peperangan yang terjadi di antara mereka, peristiwa-peristiwa yang terjadi dalam masyarakat dan kehidupan adalah kepada hafalan semata-mata.
Faktor pendorong penulisan Al-Qur’an pada masa Abu Bakar adalah adanya kekhawatiran hilangnya ayat Al-Qur’an akibat kematian sejumlah besar para penghafal dan para pembaca dalam peperangan. Hal ini disebabkan karena ayat Al-Qur’an dalam bentuk tulisan yang dimiliki para pembaca dan penghafal dapat hilang karena kematiannya, dan sebagaimana kita tahu bahwa penghimpunan Al-Qur’an harus disandarkan pada hafalan dan tulisan. Oleh karena itu, lembaran-lembaran (shuhuf) yang menghimpun ayat Al-Qur’an pada masa Abu Bakar  telah mendapatkan perhatian besar dan lembaran-lembaran tersebut berada ditangan Abu Bakar sampai Allah mewafatkannya, kemudian berpindah tangan kepada Umar sampai Allah mewafatkannya. Kemudian beralih ke tangan Hafshah sampai pada masa Utsman r.a. yang memintanya dari Hafshah untuk dihimpun ketiga kalinya. Utsman melakukannya dengan menyederhanakan tulisan mushaf pada satu huruf dari tujuh huruf yang dengannya Al-Qur’an turun.

No comments:

Translate