17 Jun 2014

Metode dalam Penafsiran al-Qur'an




Bismillah wa al-Hamdu Lillah
Tafsir secara bahasa merupakan bentuk masdar dari fassara, yufassiru yang berarti waḍḍaha yuwaḍḍihu[1] ataupun abȃna yubīnu[2] yang berarti menjelaskan. Kata tersebut berasal dari kata fasara yafsiru ataupun fasara yufsira fasran yang bermakna al-kasyfu al-mugaṭṭī[3] yang berarti membuka sesuatu yang tertutup. Sedangkan makna dari tafsīr adalah  kasyfu al-murȃd  ‘an al-lafi al-musykil yang berarti membuka maksud dari lafadz yang belum jelas.[4]
Adapun menurut istilah tafsir menurut al-‘Utsaimin adalah penjelasan makna-makna al-Qur’an.[5] Sedangkan menurut al-Zarkasyi tafsir adalah ilmu yang digunakan untuk memahami al-Qur’an yang diturunkan kepada Nabi Muhammad Saw, juga untuk memahami makna-maknanya dan mengeluarkan hukum-hukum dan hikmah-hikmah yang ada di dalamnya.[6]

Berdasarkan pengertian di atas maka jelaslah bahwa tafsir al-Qur’an adalah hal yang sangat penting dalam Islam. Hal ini dikarenakan al-Qur’an merupakan sumber pokok dari ajaran Islam dan seseorang tidak dapat memahaminya tanpa mengetahui makna-makna yang terkandung di dalamnya, ataupun seseorang tidak dapat mengetahui hukum-hukum yang ada di dalamnya tanpa memahami apa maksud dari lafadz yang ada di dalamnya. Allah SWT berfirman :
كِتَابٌ أَنْزَلْنَاهُ إِلَيْكَ مُبَارَكٌ لِيَدَّبَّرُوا آيَاتِهِ وَلِيَتَذَكَّرَ أُولُو الْأَلْبَابِ [ص : 29]
“  Ini adalah sebuah Kitab yang kami turunkan kepadamu penuh dengan berkah supaya mereka memperhatikan ayat-ayatNya dan supaya mendapat pelajaran orang-orang yang mempunyai fikiran.” ( Shad (38):29).
أَفَلَا يَتَدَبَّرُونَ الْقُرْآنَ أَمْ عَلَى قُلُوبٍ أَقْفَالُهَا  [محمد : 24]
“Maka apakah mereka tidak memperhatikan Al Quran ataukah hati mereka terkunci?” (Muhammad (47) : 21)
Pada ayat yang pertama di atas Allah menjelaskan bahwa hikmah diturunkannya al-Qur’an adalah agar supaya manusia mentadaburi ayat-ayat yang ada di dalamnya. Sedangkan pada ayat yang kedua Allah mencela orang-orang yang tidak mau mentadaburi al-Qur’an. Sedangkan seseorang tidak dapat memtadaburi al-Qur’an tanpa mengetahui maksud-maksud dari lafadz-lafadz al-Qur’an, maka jelaslah bahwa tafsir al-Qur’an sagat penting adanya.
Selanjutnya, dalam menafsirkan al-Qur’an dikenal beberapa metode penafsiran.  Metode inilah yang natinya digunakan oleh seorang penafsir untuk mengarahkan penafsiran yang dilakukannya. Hal ini diperlukan supaya penafsiran yang dilakukan akan lebih terarah, sistematis dan tidak menyimpang dari tujuan awalnya atau bahkan mengakibatkan seorang penafsir melakukan penafsiran yang menyimpang dari maksud al-Qur’an yang sebenarnya[7] sehingga dapat menyesatkan banyak manusia. Oleh karena itu metode penafsiran harsus dimiliki oleh seorang penafsir.[8]
Ada beberapa metode penafsiran yang digunakan dalam penafsiran al-Qur’an. Setiap metode penafsiran tersebut memiliki kelebihan dan kekurangan masing-masing. Oleh karena itu penafsirlah yang menentukan metode mana yang akan digunakannya untuk melakukan penafsiran sesuai kebutuhan penafsiran yang dilakukannya. Metode-metode itu adalah sebagai berikut[9] :
1.     Metode Ijmȃli (Global)
Metode ijmȃli adalah metode yang digunakan untuk menafsirkan al-Qur’an secara ringkas ayat perayat dengan bahasa yang ringkas dan sederhana. Pembaca penafsiran ini akan merasa masih membaca mushaf al-Qur’an asli walaupun sebenarnya adalah penafsirannya. Penafsiran dilakukan sesuai dengan susunan mushaf.[10]
Kelebihan metode ini adalah :
a.      Praktis dan mudah difahami
b.     Bebas dari penafsiran isrȃiliy  ȃt.
c.      Akrab dengan bahasa al-Qur’an[11]
Kekurangan metode ini adalah :
a.      Menjadikan petunjuk al-Qur’an bersifat parsial
b.     Tidak ada ruang untuk mengemukakan analisis yang memadai.[12]
2.     Metode Analistis (Tahlīlī)
Metode analistis adalah metode penafsiran al-Qur’an dengan memaparkan segala aspek yang terkandung di dalam ayat-ayat yang ditafsirkan (sebab turun ayat, kesesuaian ayat dengan ayat yang lain, makna-makana kandungannya) sesuai dengan keahlian dan kecenderungan penafsir.[13]
Kebihan metode ini adalah :
a.      Ruang lingkupnya luas.
b.     Dapat memuat berbagai macam ide.
Kekurangan dari metode ini :
a.      Menjadikan petunjuka la-Qur’an parsial.
b.     Malahirkan penafsiran yang subjektif.

3.     Metode Komparatif (Maqȃrin)
Metode komparatif adalah metode yang digunakan utnuk menafsirkan al-Qur’an dengan membandingkan
a.      Teks/ayat-ayat al-Qur’an yang memiliki persamaan atau kemiripan redakasi dalam satu kasus atau lebih, ataupun yang berbeda redaksi dalam satu kasus yang sama.
b.     Al-Qur’an dan hadis yang dipandang bertentangan.
c.      Pendapat di antara dua atau lebih ahli tafsir mengenai penafsiran suatu ayat ataupun dalam permasalahan tertentu.[14]
Kelebihan metode ini adalah :
a.      Memberikan wawasan penafsiran yang relatif lebih luas bagi para pembaca dari metode-metode yang lain.
b.     Membuka pintu untuk bersikap toleran atas pendapat-pendapat yang berbeda mengenai suatu permasalahan.
c.      Mendorong seorang penafsir untuk mengkaji penafsiran-penafsiran ulama lain mengenai suatu ayat ataupun dalam suatu permasalahan.[15]
Kekurangan dari metode ini adalah :
a.      Penafsiran dengan metode ini tidak cocok untuk pemula
b.     Penafsirannya kurang dapat memecahkan permasalahan yang ada ataupun sedang dihadapi.
c.      Cenderung hanya melihat penafisran-penafsiran ulama terdahulu sehingga tidak menghasilkan penafsiran-penafsiran baru. [16]
4.     Metode Tematik (Mauȗ’ī)
Adalah metode penafsiraan al-Qur’an berdasarkan tema atau pembahasan tertentu dengan membahas secara mendalam dengan memperhatikan berbagai macam aspek yang ada (asbabun nuzul, hadis-hadis yang berkaitan, pendapat para ulama, dll).[17]
Dalam menerapkan metode ini ada beberpa langkah-lagkah yang perlu dilakuakan sbb:
a.      Menghimpun ayat-ayat yang berkaitan dengan tema ataupun judul yang akan di bahas berdasarkan waktu turunnya ayat.
b.     Menelusuri sebab-sebab turunnya ayat yang telah dihimpun.
c.      Meneliti dengan cermat semua kata atau kalimat yang dipakai dalam ayat tersebut, terutama kosa kata yang  menjadi pokok permasalahan di dalama ayat. Kemudian mengkaji kosa kata tersebut dari berbagai macam aspek seperti bahasa, budaya, sejarah, kata ganti, dsb.
d.     Mengkaji pemahaman ayat-ayat tersebut dari pemahaman berbagai aliran dan pendapat para penafsir.
e.      Semua yang telah disebutkan di atas dikaji secara tuntas dan teliti dengan menggunakan penalaran yang objektif melalui kaidah-kaidah tafsir yang mu’tabar serta didukung fakta ataupun argumen-argumen yang jelas.
Kelebihan metode ini adalah :
a.      Menjawab tantangan zaman
b.     Praktis dan sistematis
c.      Dinamis
d.     Membuat pemahaman menjadi utuh.[18]
Kekurangan dari metode ini adalah :
a.      Memenggal ayat al-Qur’an.
b.     Membatasi pemahaman ayat.[19]
Begitulah metode-metode penafsiran yang ada. untuk lebih detailnya bisa dilihat pada buku2 yang ada dalam footnote berikut. Wallahu a'lam.






















No comments:

Translate