29 Mar 2013

hukum membicarakan kebaikan seseorang

Apa hukum membicarakan kebaikan teman ???
mengapa kita tidak boleh membicarakan kebaikan di hadapannya????
kenapa ketika kita membicarakan kebaikan orang lain, mesti dibelakangnya????

Silahkan saudara/I untuk menyimak baik baik penjelasan dibawah ini :

Sesungguhnya ketika kita membicarakan kebaikan orang lain itu adalah sama halnya dengan kita memujinya, dan sesungguhnya pujian itu adalah sebuah perkataan tajam yang dilumuri dengan keindahan kata2 yang dapat menusuk2, membunuh perlahan2 orang yang dipuji, apalagi jika pujian itu keterlaluan. Keterlaluan bohongnya.

Kenapa begitu? karena, pujian itu dapat membuat orang yang dipuji itu menjadi tersanjung yang kemudian akan melahirkan sifat ‘ujub (berbangga diri), yang kemudian akan melahirkan kesombongan, yang kemudian akan melahirkan sikap memandang rendah orang lain, dan yang kemudian pada akhirnya akan menganggap semua tindakannya adalah kebenaran. Itu seperti sebuah dosa yang beranak pinang, menghasilkan dosa2 lainnya.

Mengenai pujian ini, rasul berkata:

وَيْحَكَ قَطَعْتَ عُنُقَ صَاحِبِكَ، قطعت عنق صاحبك – مرارا-. إِذا كانِ أَحَدُكُمْ مادِحاً صَاحِبَهُ لاَ مَحالَةَ فَلْيَقُلْ: أَحْسِبُ فُلاناً وَاللهُ حَسِيْبُهُ وَلا أُزَكِّي عَلَى اللهِ أَحَداً

“Celaka kamu, kamu telah memenggal leher temanmu, kamu telah memenggal leher temanmu -berulang-ulang-. Kalaupun salah seorang di antara kalian harus memuji temannya maka hendaknya dia mengatakan: Aku mengira dia seperti itu dan Allahlah yang menghisabnya, aku tidak memuji siapapun di hadapan Allah.”
(HR. Muslim no. 3000)

Maksud dari kalimat ‘kamu telah memenggal leher temanmu’ sesungguhnya adalah kiasan dari sesuatu hal yang mencelakakan.

Dari Abu Musa Al-Asy’ari radhiallahu anhu dia berkata: Nabi shallallahu alaihi wasallam mendengar seseorang memuji temannya dan berlebihan dalam memujinya maka beliau bersabda:

لَقَدْ أَهْلَكْتُمْ – أَوْ قَطَعْتُمْ ظَهْرَ – الرَّجُلِ

“Sungguh kamu telah mencelakakan -atau mematahkan punggung- lelaki itu.”
(HR. Muslim no. 3001)

Kalimat ‘mematahkan punggung’ juga adalah kiasan dari mencelakakan.
Dari Al-Miqdad bin Al-Aswad radhiallahu anhu dia berkata:

أَمَرَنَا رسولُ اللهِ صلى الله عليه وسلم أَنْ نَحْثُوَ فِي وُجُوْهِ الْمَدَّاحِيْنَ التُّرَابَ

“Rasulullah shallallahu alaihi wasallam memerintahkan kami untuk menaburkan tanah ke wajah-wajah orang yang berlebihan dalam memuji.”
(HR. Muslim no. 3002)

Itulah mengapa kita jangan membicarakan kebaikan orang didepan orang itu. Tapi bicarakanlah kebaikannya dibelakang bersama teman2 sambil ngopi dan makan snack dikala orang yang kita puji itu sedang tidak bersama kita. Juga jangan berlebihan, karena kelak bisa saja diartikan ngarang oleh teman2 yang lain. Terus kenapa harus sambil ngopi dan makan snack? Yaa itu biar makin nikmat aja gitu kita ngobrolnya, apalagi kalau kita yang mentraktir kopi dan snacknya. Teman2 sudah pasti sangat suka, riang, dan gembira.

1 comment:

Unknown said...

Jazakumulllah khairan

Translate