Kesalahan-kesalahan
masyarakat umum ketika sholat berjama’ah,
1. Tidak
memperindah pakaian ketika ke Mesjid
Alloh ta’ala
berfirman:
7:31. Hai
anak Adam, pakailah pakaianmu yang indah di setiap (memasuki) mesjid, makan dan
minumlah, dan janganlah berlebih-lebihan. Sesungguhnya Allah tidak menyukai
orang-orang yang berlebih-lebihan.
2.
Tergesa-gesa menuju mesjid
Dari Abu
Hurairah رضرضي الله عنه dari Rasulullah صلى الله عليه وسلم beliau bersabda:
إِذَا
سَمِعْتُمْ الْإِقَامَةَ فَامْشُوا إِلَى الصَّلَاةِ وَعَلَيْكُمْ بِالسَّكِينَةِ
وَالْوَقَارِ وَلَا تُسْرِعُوا فَمَا أَدْرَكْتُمْ فَصَلُّوا وَمَا فَاتَكُمْ
فَأَتِمُّوا
“Jika kalian
mendengar iqamat dikumandangkan, maka berjalanlah menuju shalat, dan hendaklah
kalian berjalan dengan tenang dan jangan tergesa-gesa. Apa yang kalian dapatkan
dari shalat maka ikutilah, dan apa yang kalian tertinggal maka sempurnakanlah.”
(HR. Al-Bukhari no. 117 dan Muslim no. 602)
Dari Abu
Qatadah رضرضي الله عنه dia berkata:
بَيْنَمَا
نَحْنُ نُصَلِّي مَعَ النَّبِيِّ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ إِذْ سَمِعَ جَلَبَةَ
رِجَالٍ. فَلَمَّا صَلَّى, قَالَ: مَا شَأْنُكُمْ؟ قَالُوا: اسْتَعْجَلْنَا إِلَى
الصَّلَاةِ. قَالَ: فَلَا
تَفْعَلُوا إِذَا أَتَيْتُمْ الصَّلَاةَ فَعَلَيْكُمْ بِالسَّكِينَةِ فَمَا أَدْرَكْتُمْ فَصَلُّوا وَمَا فَاتَكُمْ فَأَتِمُّوا
تَفْعَلُوا إِذَا أَتَيْتُمْ الصَّلَاةَ فَعَلَيْكُمْ بِالسَّكِينَةِ فَمَا أَدْرَكْتُمْ فَصَلُّوا وَمَا فَاتَكُمْ فَأَتِمُّوا
“Ketika kami
sedang shalat bersama Nabi shallallahu ‘alaihi wasallam, maka tiba-tiba beliau
mendengar suara gaduh beberapa orang. Maka setelah selesai, beliau bertanya,
“Ada apa dengan kalian?” Mereka menjawab, “Kami tergesa-gesa mendatangi
shalat.” Beliau pun bersabda, “Janganlah kalian berbuat seperti itu. Jika
kalian mendatangi shalat maka datanglah dengan tenang, apa yang kalian dapatkan
dari shalat maka ikutilah, dan apa yang kalian tertinggal maka sempurnakanlah.”
(HR. Al-Bukhari no. 599 dan Muslim no. 603)
3. Tidak mendekati
sutroh ketika shalat sunnah
Rasulullah
-Shallallahu alaihi wa sallam- bersabda,
إِذَا صَلَّى
أَحَدُكُمْ إِلَى سُتْرَةٍ فَلْيَدْنُ مِنْهَا لاَ يَقْطَعْ الشَّيْطَانُ عَلَيْهِ
صَلاَتَهُ
“Apabila
salah seorang dari kalian shalat menghadap sutroh (penghalang), maka hendaklah
dia mendekat kepadanya. Maka setan tidak akan memotong shalatnya.” [HR. Abu
Daud dalam Sunan-nya (695), dan An-Nasa’iy dalam Al-Mujtaba (748). Hadits ini
di-shohih-kan oleh Syaikh Al-Albaniy dalam Takhrij Al-Misykah (782)]
Qurroh bin Iyas
-radhiyallahu ‘anhu- berkata,
رَآنِيْ
عُمَرُ وَأَنَا أُصَلِّيْ بَيْنَ أُسْطُوَانَتَيْنِ فَأَخَذَ بِقَفَائِيْ
فَأَدْنَانِيْ إِلَى سُتْرَةٍ فَقَالَ: صَلِّ إِلَيْهَا
“Umar
melihatku sedang shalat di antara dua tiang. Dia langsung memegang leherku dan
mendekatkan aku ke sutroh (penghalang) sambil berkata, “Shalatlah menghadap
sutroh (penghalang)”. [HR. Bukhariy dalam Shahih-nya (1/577) secara mu’allaq,
dan Ibnu Abi Syaibah dalam Al-Mushonnaf (7502)
4. Masih
terus sholat sunnah ketika iqomah telah berkumandang,
Dari Abu
Huroiroh radiyallahu ‘anhu, dari nabi shallallahu ‘alaihi wasallam bersabda:
“Apabila iqomah sholat telah ditegakkan maka tidak ada sholat kecuali sholat
fardhu”. (HR. Muslim bi As-syarh An-Nawawi 5/222)
An-Nawawi
berkata: “Hadits ini terdapat larangan yang jelas dari mengerjakan sholat
sunnah setelah iqomah sholat dikumandangkan sekalipun sholat rawatib seperti
rawatib subuh, dzuhur, ashar dan selainnya” (Al-Majmu’ 3/378)
5. Tidak
mengisi shof pertama sampai penuh
Dari Abu
Hurairah -radhiallahu anhu- bahwasanya Rasulullah -shalallahu alaihi wa alihi
wasallam- bersabda :
لَوْ
يَعْلَمُ النَّاسُ مَا فِي النِّدَاءِ وَالصَّفِّ الْأَوَّلِ ثُمَّ لَمْ يَجِدُوا
إِلَّا أَنْ يَسْتَهِمُوا عَلَيْهِ لَاسْتَهَمُوا وَلَوْ يَعْلَمُونَ مَا فِي
التَّهْجِيرِ لَاسْتَبَقُوا إِلَيْهِ وَلَوْ يَعْلَمُونَ مَا فِي الْعَتَمَةِ
وَالصُّبْحِ لَأَتَوْهُمَا وَلَوْ حَبْوًا
“Kalau
seandainya manusia mengetahui besarnya pahala yang ada pada panggilan (azan)
dan shaf pertama kemudian mereka tidak bisa mendapatkannya kecuali dengan
undian maka pasti mereka akan mengundinya. Dan kalaulah mereka mengetahui
besarnya pahala yang akan didapatkan karena bersegera menuju shalat maka mereka
pasti akan berlomba-lomba (untuk menghadirinya). Dan kalaulah seandainya mereka
mengetahui besarnya pahala yang akan didapatkan dengan mengerjakan shalat isya
dan subuh, maka pasti mereka akan mendatanginya meskipun harus dengan
merangkak.” (HR. Al-Bukhari no. 69 dan Muslim no. 437)
Dari Abu
Said Al-Khudri bahwa Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam melihat para
sahabatnya terlambat, maka beliau bersabda kepada mereka:
تَقَدَّمُوا
فَأْتَمُّوا بِي وَلْيَأْتَمَّ بِكُمْ مَنْ بَعْدَكُمْ لَا يَزَالُ قَوْمٌ
يَتَأَخَّرُونَ حَتَّى يُؤَخِّرَهُمْ اللَّهُ
“Kalian
majulah ke depan dan bermakmumlah di belakangku, dan hendaklah orang yang
datang setelah kalian bermakmum di belakang kalian. Terus-menerus suatu kaum
itu membiasakan diri terlambat mendatangi shalat, hingga Allah juga
mengundurkan mereka (masuk ke dalam surga).” (HR. Muslim no. 438)
Dari Abu
Hurairah -radhiallahu ‘anhu- dia berkata: Rasulullah shallallahu ‘alaihi
wasallam bersabda:
خَيْرُ
صُفُوفِ الرِّجَالِ أَوَّلُهَا وَشَرُّهَا آخِرُهَا وَخَيْرُ صُفُوفِ النِّسَاءِ
آخِرُهَا وَشَرُّهَا أَوَّلُهَا
“Sebaik-baik
shaf kaum laki-laki adalah di depan, dan sejelek-jeleknya adalah paling
belakang. Dan sebaik-baik shaf wanita adalah paling belakang, dan
sejelek-jeleknya adalah yang paling depan.” (HR. Muslim no. 440)
6. Tidak
merapatkan dan meluruskan shof
Dari Anas
radhiyallahu’anhu, dari Nabi shallallahu’alaihi wa sallam, beliau bersabda:
“Tegakkanlah
shaf-shaf kalian, sesungguhnya aku melihat kalian dari belakang punggungku.”
Maka Anas
berkata: “Salah seorang dari kami, mempertemukan bahunya dengan bahu saudaranya
dan telapak kakinya dengan telapak kaki saudaranya.” Dikeluarkan oleh Al
Bukhari di dalam Ash Shahih (725), Ahmad di dalam Al Musnad (3/182, 263).
Dalam satu
riwayat Anas radhiyallahu’anhu berkata: “Sesungguhnya saya melihat salah
seorang dari kami mempertemukan bahunya dengan bahu saudaranya. Kalau engkau
pergi untuk melakukan demikian itu pada hari ini, tentu engkau akan melihat
salah seorang dari mereka (kaum muslimin) seperti baghal liar.” Dikeluarkan
oleh Abu Ya’la di dalam Al Musnad (3720), Al Mulakhash fil Fawaid (1/10/2) dan Said
bin Manshur di dalam As Sunan dan Al Ismaili sebagaimana di dalam Fathul Baari
(2/211) dan sanadnya shahih di atas syarat Asy Syaikhan sebagaimana di dalam As
Silsilah Ash Shahihah (31).
Dijelaskan
di dalam hadits yang dikeluarkan oleh Al-Imam Al-Bukhariy dan Al-Imam Muslim
dari shahabat Abu Abdillah An-Nu'man bin Basyir, beliau berkata, aku mendengar
Rasulullah shallallahu 'alaihi wa sallam bersabda,
لَتُسَوُّنَّ
سُفُوْفَكُمْ أَوْ لَيُخَالِفَنَّ اللهُ بَيْنَ وُجُوْهِكُمْ
"Benar-benar
kalian luruskan shaf-shaf kalian atau (kalau tidak), maka sungguh Allah akan
memalingkan antar wajah-wajah kalian (menjadikan wajah-wajah kalian
berselisih)." (HR. Al-Bukhariy no.717 dan Muslim 436))
Dalam satu
riwayat milik Al-Imam Muslim disebutkan,
كَانَ
رَسُوْلُ اللهِ يُسَوِّي صُفُوْفَنَا حَتَّى كَأَنَّمَا يُسَوِّي بِهَا القِدَاحَ
حَتَّى إِذَا رَأَى أَنَّا قَدْ عَقَلْنَا عَنْهُ ثُمَّ خَرَجَ يَوْمًا فَقَامَ
حَتَّى كَادَ أَنْ يُكَبِّرَ فَرَأَى
رَجُلاً بَادِيًا صَدْرُهُ فَقَالَ: عِبَادَ اللهِ لَتُسَوُّنَّ سُفُوْفَكُمْ أَوْ لَيُخَالِفَنَّ اللهُ بَيْنَ وُجُوْهِكُمْ
رَجُلاً بَادِيًا صَدْرُهُ فَقَالَ: عِبَادَ اللهِ لَتُسَوُّنَّ سُفُوْفَكُمْ أَوْ لَيُخَالِفَنَّ اللهُ بَيْنَ وُجُوْهِكُمْ
"Bahwasanya
Rasulullah biasa meluruskan shaf-shaf kami seakan-akan beliau sedang meluruskan
anak panah sehingga apabila beliau melihat bahwasanya kami telah memahami hal
itu, yakni wajibnya meluruskan shaf (maka beliaupun memulai shalatnya, pent).
Kemudian pada suatu hari beliau keluar, lalu berdiri sampai hampir-hampir
beliau bertakbir untuk shalat, tiba-tiba beliau melihat seseorang yang menonjol
sedikit dadanya, maka beliaupun bersabda, "Wahai hamba-hamba Allah, benar-benar
kalian luruskan shaf-shaf kalian atau (kalau tidak) maka Allah sungguh akan
memalingkan antar wajah-wajah kalian."
7.
Mendahului gerakan imam
Perbuatan
yang barangkali dianggap persoalan remeh oleh sebagian besar umat Islam itu
oleh Rasulullah Shallallahu’alaihi wasallam diperingatkan dan diancam secara
keras, dalam sabdanya :
“Tidakkah
takut orang yang mengangkat kepalanya sebelum imam, bahwa Allah akan mengubah
kepalanya menjadi kapala keledai” (HR Muslim : 1/320-321)
Dahulu para
sahabat Nabi Radhiallahu Anhum sangat berhati–hati sekali untuk tidak
mendahului Nabi Shallallahu’alaihi wasallam. Salah seorang sahabat bernama Al
Barra’ Bin Azib Radhiallahu’anhu berkata :
“Sungguh
mereka (para shahabat) shalat di belakang Rasulullah Shallallahu’alaihi
wasallam. Maka, jika beliau mengangkat kepalanya dari ruku’, saya tak melihat
seorangpun yang membungkukkan punggungnya sehingga Rasulullah
Shallallahu’alaihi wasallam meletakkan keningnya di atas bumi, lalu orang yang
ada di belakangnya bersimpuh sujud (bersamanya)” (HR Muslim, hadits No : 474)
8. Berjabat
tangan setelah selesai salam
Syaikh Abdul
Aiz bin Abdullah bin Baz ditanya : Bagaimana hukum bersalaman setelah shalat,
dan apakah ada perbedaan antara shalat fardhu dan shalat sunnah ?
Jawaban
Pada dasarnya
disyariatkan bersalaman ketika berjumpanya sesama muslim, Nabi Shallallahu
alaihi wa sallam senantiasa menyalami para sahabatnya Radhiyallahu anhum saat
berjumpa dengan mereka, dan para sahabat pun jika berjumpa mereka saling
bersalaman, Anas Radhiyallahu anhu dan Asy-Sya'bi rahimahullah berkata :
"Adalah
para sahabat Nabi Shallallahu alaihi wa sallam apabila berjumpa mereka saling
bersalaman, dan apabila mereka kembali dari bepergian, mereka berpelukan".
Disebutkan
dalam Ash-Shahihain [1], bahwa Thalhah bin Ubaidillah Radhiyallahu anhu, salah
seorang yang dijamin masuk surga, bertolak dari halaqah Nabi Shallallahu alaihi
wa sallam di masjidnya menuju Ka’ab bin Malik Radhiyallahu anhu ketika Allah
menerima taubatnya, lalu ia menyalaminya dan mengucapkan selamat atas diterima
taubatnya. Ini perkara yang masyhur di kalangan kaum Muslimin pada masa Nabi
Shallallahu alaihi wa sallm dan setelah wafatnya beliau, juga riwayat dari Nabi
Shallallahu alaihi wa sallam bahwa beliau bersabda.
“Artinya :
Tidaklah dua orang muslim berjumpa lalu bersalaman, kecuali akan berguguranlah
dosa-dosa keduanya sebagaimana bergugurannya dedaunan dari pohonnya”. [2]
Disukai
bersalaman ketika berjumpa di masjid atau di dalam barisan, jika keduanya belum
bersalaman sebelum shalat maka bersalaman setelahnya, hal ini sebagai
pelaksanaan sunnah yang agung itu disamping karena hal ini bisa menguatkan dan
menghilangkan permusuhan.
Kemudian
jika belum sempat bersalaman sebelum shalat fardhu, disyariatkan untuk
bersalaman setelahnya, yaitu setelah dzikir yang masyru’. Sedangkan yang
dilakukan oleh sebagian orang, yaitu langsung bersalaman setelah shalat fardu,
tepat setelah salam kedua, saya tidak tahu dasarnya. Yang tampak malah itu
makruh karena tidak adanya dalil, lagi pula yang disyariatkan bagi orang yang
shalat pada saat tersebut adalah langsung berdzikir, sebagaimana yang biasa
dilakukan oleh Nabi Shallallahu alaihi wa sallam setelah shalat fardhu.
Adapun
shalat sunnah, maka disyariatkan bersalaman setelah salam jika sebelumnya belum
sempat bersalaman, karena jika telah bersalaman sebelumnya maka itu sudah
cukup.
[Fatawa
Muhimmah Tatallqu Bish Shalah, hal. 50-52, Syaikh Ibnu Baz]
[1].
Al-Bukhari, Kitab Al-Maghazi 4418, Muslim kitab At-Taubah 2769
[2]. Abu
Daud, Kitab Al-Adab 5211-5212, At-Turmudzi Kitab Al-Isti’dzan 2728, Ibnu Majah
Kitab Al-Adab 3703, Ahmad 4/289, 303 adapun lafazhnya adalah : “Tidaklah dua
orang Muslim berjumpa lalu bersalaman, kecuali keduanya akan diampuni sebelum
mereka berpisah.
Al ‘Izz bin
Abdus Salam Asy-Syafi’iy -rahimahullah- berkata, “Jabat tangan setelah shalat
Shubuh dan Ashar termasuk bid’ah, kecuali bagi yang baru datang dan bertemu
dengan orang yang menjabat tangannya sebelum shalat. Maka sesungguhnya jabat
tangan disyaratkan tatkala datang. Nabi Shallallahu ‘ Alaihi Wa Sallam
berdzikir setelah shalat dengan dzikir-dzikir yang disyariatkan dan
beristighfar tiga kali kemudian berpaling. Diriwayatkan bahwa beliau berdzikir
:
رَبِّ قِِنِيْ عَذَابَكَ يَوْمَ تَبْعَثُ عِبَادَكَ
“Wahai
Rabbku, jagalah saya dari adzab-Mu pada hari Engkau bangkitkan hamba-Mu.” [HR.
Muslim 62, Tirmidzi 3398 dan 3399, dan Ahmad dalam Al-Musnad (4/290)]. Kebaikan
seluruhnya adalah dalam mengikuti Rasul”. [Lihat Fatawa Al ‘Izz bin Abdus Salam
(hal.46-47), dan Al Majmu’ (3/488)].
Apabila
bid’ah ini di masa penulis terbatas setelah dua shalat tersebut, maka sungguh
di jaman kita ini, hal itu telah terjadi pada seluruh shalat. Laa haula wala
quwwata illa billah.
Al Luknawiy
-rahimahullah- berkata, “Sungguh telah tersebar dua perkara di masa kita ini
pada mayoritas negeri, khususnya di negeri-negeri yang menjadi lahan subur
berbagai bid’ah dan fitnah. Pertama, mereka tidak mengucapkan salam ketika
masuk masjid waktu shalat Shubuh, bahkan mereka masuk dan shalat sunnah
kemudian shalat fardlu. Lalu sebagian mereka mengucapkan salam atas sebagian
yang lain setelah shalat dan seterusnya. Hal ini adalah perkara yang jelek
karena sesungguhnya salam hanya disunnahkan tatkala bertemu sebagaimana telah
ditetapkan dalam riwayat-riwayat yang shahih, bukan tatkala telah duduk. Kedua,
mereka berjabat tangan setelah selesai shalat Shubuh, Ashar, dan dua hari raya,
serta shalat Jum’at. Padahal pensyariatan jabat tangan juga hanya di saat awal
bersua”. [Lihat As-Si’ayah fil Kasyf Amma fi Syarh Al-Wiqayah (hal. 264)].
Dari
perkataan beliau dapat dipahami bahwa jabat tangan antara dua orang atau lebih
yang belum berjumpa sebelumnya tidak ada masalah. Muhaddits Negeri Syam, Syaikh
Al Albaniy -rahimahullah- berkata dalam As-Silsilah As-Shahihah (1/1/53),
“Adapun jabat tangan setelah shalat adalah bid’ah yang tidak ada keraguan
padanya, kecuali antara dua orang yang belum berjumpa sebelumnya. Maka hal itu
adalah sunnah sebagaimana Anda telah ketahui”.
Larangan
berjabat tangan setelah melaksanakan sholat merupakan perkara yang dilarang
oleh para ulama’. Oleh karena itu, sebuah kesalah besar, jika diantara kaum
muslimin yang membenci saudaranya jika tidak melayaninya berjabatan tangan, dan
menganggapnya pembawa aliran sesat. Padahal mereka yang tak mau berjabatan
tangan saat usai sholat memiliki sandaran dari Al-Kitab dan Sunnah, serta
ucapan para ulama’.
Al-Allamah
Al-Luknawiy-rahimahullah- berkata,
“Di antara yang melarang perbuatan itu (jabat tangan setelah sholat), Ibnu Hajar Al-Haitamiy As-Syafi’iy, Quthbuddin bin Ala’uddin Al-Makkiy Al-Hanafiy, dan Al-Fadhil Ar-Rumiy dalam Majalis Al-Abrar menggolongkannya termasuk dari bid’ah yang jelek ketika beliau berkata, “Berjabat tangan adalah baik saat bertemu. Adapun selain saat bertemu misalnya keadaan setelah shalat Jum’at dan dua hari raya sebagaimana kebiasaan di jaman kita adalah perbuatan tanpa landasan hadits dan dalil! Padahal telah diuraikan pada tempatnya bahwa tidak ada dalil berarti tertolak dan tidak boleh taklid padanya.” [Lihat As-Si’ayah fil Kasyf Amma fi Syarh Al-Wiqayah (hal. 264), Ad-Dienul Al-Khalish (4/314), Al-Madkhal (2/84), dan As-Sunan wa Al-Mubtada’at (hal. 72 dan 87)].
“Di antara yang melarang perbuatan itu (jabat tangan setelah sholat), Ibnu Hajar Al-Haitamiy As-Syafi’iy, Quthbuddin bin Ala’uddin Al-Makkiy Al-Hanafiy, dan Al-Fadhil Ar-Rumiy dalam Majalis Al-Abrar menggolongkannya termasuk dari bid’ah yang jelek ketika beliau berkata, “Berjabat tangan adalah baik saat bertemu. Adapun selain saat bertemu misalnya keadaan setelah shalat Jum’at dan dua hari raya sebagaimana kebiasaan di jaman kita adalah perbuatan tanpa landasan hadits dan dalil! Padahal telah diuraikan pada tempatnya bahwa tidak ada dalil berarti tertolak dan tidak boleh taklid padanya.” [Lihat As-Si’ayah fil Kasyf Amma fi Syarh Al-Wiqayah (hal. 264), Ad-Dienul Al-Khalish (4/314), Al-Madkhal (2/84), dan As-Sunan wa Al-Mubtada’at (hal. 72 dan 87)].
Beliau juga
berkata, “Sesungguhnya ahli fiqih dari kelompok Hanafiyah, Syafi’iyah, dan
Malikiyah menyatakan dengan tegas tentang makruh dan bid’ahnya.” Beliau berkata
dalam Al Multaqath ,“Makruh (tidak disukai) jabat tangan setelah shalat dalam
segala hal karena shahabat tidak saling berjabat tangan setelah shalat dan
bahwasanya perbuatan itu termasuk kebiasaan-kebiasaan Rafidhah.” Ibnu Hajar,
seorang ulama Syafi’iyah berkata, “Apa yang dikerjakan oleh manusia berupa
jabat tangan setelah shalat lima waktu adalah perkara yang dibenci, tidak ada
asalnya dalam syariat.” Alangkah fasihnya perkataan beliau –rahimahullah
Ta’ala- dari ijtihad dan ikhtiarnya. Beliau berkata, “Pendapat saya,
sesungguhnya mereka telah sepakat bahwa jabat tangan (setelah shalat) ini tidak
ada asalnya dari syariat. Kemudian mereka berselisih tentang makruh atau mubah.
Suatu masalah yang berputar antara makruh dan mubah harus difatwakan untuk
melarangnya, karena menolak mudlarat lebih utama daripada menarik maslahah.
Lalu kenapa dilakukan padahal tidak ada keutamaan mengerjakan perkara yang
mubah? Sementara orang-orang yang melakukannya di jaman kita menganggapnya
sebagai perkara yang baik, menjelek-jelekkan dengan sangat orang yang
melarangnya, dan mereka terus-menerus dalam perkara itu. Padahal terus-menerus
dalam perkara mandub (sunnah) jika berlebihan akan menghantarkan pada batas
makruh. Lalu bagaimana jika terus-menerus dalam bid’ah yang tidak ada asalnya
dalam syariat?!Berdasarkan atas hal ini, maka tidak diragukan lagi makruhnya.
Inilah maksud orang yang memfatwakan makruhnya. Di samping itu pemakruhan
hanyalah dinukil oleh orang yang menukilnya dari pernyataan-pernyataan ulama
terdahulu dan para ahli fatwa. Maka riwayat-riwayat penulis Jam’ul Barakat,
Siraj Al Munir, dan Mathalib Al Mu’minin, mampu menandinginya, karena
kelonggaran penulisnya dalam meneliti riwayat-riwayat telah terbukti. Telah
diketahui oleh Jumhur Ulama bahwa mereka mengumpulkan segala yang basah dan
kering (yang jelas dan yang samar). Yang lebih mengherankan lagi ialah penulis
Khazanah Ar Riwayah tatkala ia berkata dalam Aqd Al-La’ali, [“Dia (Nabi) ‘Alaihis
Salam berkata, “Jabat tanganlah kalian setelah shalat Shubuh, niscaya Allah
akan menetapkan bagi kalian sepuluh (kebaikan)”.] Rasul Shallallahu ‘ Alaihi Wa
Sallam bersabda, [“Berjabat tanganlah kalian setelah shalat Ashar, niscaya
kalian akan dibalas dengan rahmah dan pengampunan”.] Sementara dia tidak
memahami bahwa kedua hadits ini dan yang semisalnya adalah palsu yang
dibuat-buat oleh orang-orang yang berjabat tangan itu. Inna lillahi wa inna
ilaihi raji’un”.[Lihat As-Si’ayah fil Kasyf Amma fi Syarh Al Wiqayah (hal.
265)]
9. Dzikir
dan do’a berjama’ah
sabda Nabi
shallallahu ‘alaihi wa ‘ala alihi wa sallam:
من عمل عملا
ليس عليه أمرنا فهو رد
.
.
“Barangsiapa
yang mengamalkan suatu amalan yang tidak ada perintah dari kami, maka amalan
itu tertolak.”
“Do’a jama’i
setelah Imam mengucapkan salam dengan serempak, tidak ada asalnya yang
menunjukkan bahwa amalan ini disyari’atkan. Dan Dewan Riset dan Fatwa
memberikan jawaban sebegai berikut:
“Do’a
sesudah shalat fardlu dengan mengangkat kedua tangan baik oleh Imam maupun
ma`mum, sendirian atau bersama-sama, bukanlah sunnah. Amalan ini adalah bid’ah
yang tidak ada keterangannya sedikitpun dari Nabi shallallahu ‘alaihi wa ‘ala
alihi wa sallam dan para sahabatnya radliyallahu ‘anhum. Adapun do’a tanpa
hal-hal demikian, boleh dilakukan karena memang ada keterangannya dalam
beberapa hadits. Wabillahi taufiq. Semoga shalawat tetap tercurah kepada Nabi
kita Muhammad beserta keluarga dan oara sahabatnya. (Lajnah Daimah).
Dari Umar
bin Yahya, dia berkata : “Aku mendengar ayahku menceritakan dari bapaknya, dia
berkata : ‘Adalah kami sedang duduk-duduk di pintu (rumah) Abdullah bin Mas’ud
Radhiyallahu ‘anhu sebelum shalat Dzuhur –(biasanya) bila dia keluar (dari
rumahnya) kami pun pergi bersamanya ke masjid-, tiba-tiba datang Abu Musa
Al-Asy’ari Radhiyallahu ‘anhu dan berkata : “Adakah Abu Abdir Rahman (Abdullah
bin Mas’ud Radhiyallahu ‘anhu) telah keluar dari kalian ? Kami menjawab :
“Belum”. Lalu diapun duduk bersama kami sampai akhirnya Abdullah bin Mas’ud
keluar. Setelah dia keluar, kami berdiri menemuinya dan Abu Musa Al-Asy’ari
berkata : “Wahai Abu Abdir Rahman, tadi aku melihat di masjid suatu perkara
yang aku mengingkari, dan alhamdulillah, aku tidak melihatnya kecuali
kebaikan”. Dia bertanya : “Apa itu?” Abu Musa menjawab :”Bila kau masih hidup
niscaya kau akan melihatnya sendiri” Abu Musa lalu berkata : “Aku melihat di
masjid beberapa kelompok orang yang duduk dalam bentuk lingkaran sambil
menunggu (waktu) shalat. Dalam setiap lingkaran itu ada seseorang laki-laki dan
ditangan-tangan mereka ada batu-batu kecil, orang laki-laki itu berkata
:’Bacalah takbir 100 kali’, mereka pun bertakbir 100 kali, kemudian berkata
lagi :’Bacalah Tahlil 100 kali’, mereka pun bertahlil 100 kali, kemudian mereka
berkata lagi :’Bacalah Tasbih 100 kali, mereka pun bertasbih 100 kali.
Abdullah bin
Mas’ud bertanya : ‘Apa yang katakan kepada mereka !’ Abu Musa menjawab : ‘Aku
tidak mengatakan apa pun pada mereka, karena aku menunggu pendapatmu atau
menunggu perintahmu!, Abdullah bin Mas’ud menjawab : ‘Tidaklah kamu perintahkan
pada mereka untuk menghitung kesalahan-kesalahan mereka, dan kau beri jaminan
bagi mereka bahwa tidak ada sedikit pun dari kebaikan mereka yang akan hilang
begitu saja ?’.
Kemudian dia
pergi dan kamipun ikut bersamanya, hingga tiba di salah satu kelompok dari
kelompok-kelompok (yang ada di masjid) dan berdiri di hadapan mereka, lalu
berkata : ‘Apa yang kalian sedang kerjakan?’ Mereka menjawab : ‘Ya Abu Abdir
Rahman, (ini adalah) batu-batu kecil yang kami gunakan untuk menghitung takbir,
tahlil, tasbih dan tahmid’. Abdullah bin Mas’ud berkata : ‘Hitunglah
kesalahan-kesalahan kalian. Aku akan menjamin bahwa tidak ada sedikitpun dari
kebaikan-kebaikan kalian yang akan hilang begitu saja.
Celaka
kalian wahai umat Muhammad, alangkah cepatnya kebinasaan kalian, lihat
sahabat-sahabat Nabi Shallallahu ‘alaihi wa sallam masih banyak, baju-baju
beliau belum rusak dan bejana-bejana beliau belum pecah. Demi Allah yang jiwaku
berada di tanganNya, sungguh, (apakah) kalian ini berada pada ajaran yang lebih
baik dari ajaran Muhammad ataukah kalian sedang membuka pintu kesesatan’.
Mereka menjawab : ‘Demi Allah, wahai Abu Abdir Rahman, kami tidak menginginkan
kecuali kebaikan’. Abdullah bin Mas’ud berkata : ‘Betapa banyak orang yang
menginginkan kebaikan tapi dia tidak dapat meraihnya, sesungguhnya Rasulullah
Shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda kepada kami bahwa ada sekelompok orang
yang membaca Al-Qur’an tapi hanya sampai sebatas kerongkongan mereka saja. Demi
Allah, aku tidak tahu, barangkali sebagian besar mereka dari kalian-kalian
ini’. Kemudian dia pergi dan Amr bin Maslamah berkata ; ‘Kami lihat sebagian
besar mereka memerangi kita pada perang Nahrawan bersama dengan kelompok
Khawarij” [Hadits Riwayat Ad-Darimy]
Smoga Alloh
ta’ala senantiasa melindungi kita dari kebiasaan – kebiasaan jelek yang terjadi
di kebanyakan masyarakat kita.
No comments:
Post a Comment