8 Jan 2014

DINAMIKA PANCASILA PADA KEHIDUPAN SEHARI-HARI


Pancasila merupakan dasar negara dan ideologi negara Indonesia yang disepakati bersama oleh para Bapak-Bapak penemu (founding fathers) ketika Bangsa Indonesia didirikan. Sejalan perkembangan zaman, kini nilai-nilai dari pancasila semakin terasa memiliki arti lain dari arti sebenarnya dari pancasila itu sendiri. Bisa terdapat penambahan, pengurangan, ataupun penyimpangan terhadap pancasila.
Pancasila sering digolongkan ke dalam ideologi tengah di antara dua ideologi besar dunia yang paling berpengaruh, sehingga sering disifatkan bukan ini dan bukan itu. Pancasila bukan berpaham komunisme dan bukan berpaham kapitalisme. Pancasila tidak berpaham individualisme dan tidak berpaham kolektivisme. Bahkan bukan berpaham teokrasi dan bukan perpaham sekuler. Posisi Pancasila inilah yang merepotkan aktualisasi nilai-nilainya ke dalam kehidupan praksis berbangsa dan bernegara. Dinamika aktualisasi nilai Pancasila bagaikan bandul yang selalu bergerak ke kanan dan ke kiri secara seimbang tanpa  pernah berhenti tepat di tengah.
Masih pentingkah pancasila untuk kita? Untuk Bangsa Indonesia? Mengapa masyarakat zaman dahulu dan zaman sekarang begitu berbeda dalam mengartikan apa itu pancasila? Dilihat dari perkembangan pancasila, masyarakat zaman dahulu masih sangat kental dengan ideologi pancasila, sehingga masih sangat dirasakan rasa persatuan dan kesatuan masyarakatnya. Kalau dilihat dari sejarah pancasila, sebetulnya pancasila dapat mempersatukan Bangsa Indonesia pada saat itu. Sampai-sampai untuk merumuskan 5 sila dari pancasila itu sendiri harus dengan pemikiran yang benar-benar matang dengan tujuan agar setiap sila dari pancasila bisa mencakup seluruh aspek yang ada pada Bangsa Indonesia.
Salah satu bentuk ketidaksetujuan masyarakat dengan pancasila pada zaman dahulu bisa dicontohkan dengan kasus G 30S PKI. Perlakuan para antek-antek PKI terhadap para prajurit TNI yang diculik merupakan tindakan yang tidak mencerminkan sikap yang adil dan tidak mencerminkan sikap yang beradab terhadap manusia. Ideologi apa yang PKI anut sebetulnya tidak salah, namun konteks Bangsa Indonesia menurut para Founding Fathers –lah yang menyebabkan paham PKI tidak bisa diterima oleh Bangsa Indonesia. Karena, pancasila sebetulnya sudah merupakan cara yang sangat tepat untuk mempersatukan Bangsa Indonesia.
Dilema yang terjadi saat ini adalah masyarakat Indonesia GALAU antara harus mementingkan kenyataan dengan mengabaikan harapan dan mementingkan harapan dengan mengabaikan kenyataan. Saya sendiri pun bingung kenapa pancasila sebagai dasar negara dan ideologi, yang telah ditanamkan pada diri kita sejak kita masih kecil sampai di perkuliahan sekarang pun, masih banyak yang belum memahami apa arti dari pancasila itu sendiri sebagai dasar negara atau bahkan sebagai landasan hidup. Mengapa masyarakat mengetahui bahwa kita merupakan Bangsa yang ber-Bhineka Tunggal Ika, tapi keadaan sekarang malah berbanding terbalik dengan pancasila itu sendiri. Apakah ada yang salah dengan pancasila? Seharusnya kita sudah mengetahui apa itu pancasila,apa makna dari setiap sila yang tertulis. Yang menyedihkan adalah ada seorang satpam yang ketika ditanya sila ke-4 dari pancasila, dia hanya menggeleng-gelengkan kepala saja. Lalu pertanyaannya adalah “MAU DIBAWA KE MANA PANCASILA SEKARANG???”
Marilah kita membahas setiap sila dari pancasila, agar lebih dapat memahami pengertian dari setiap sila tersebut.
 1. Sila Ketuhanan Yang Maha Esa
Aspek ini merupakan aspek yang sangat fundamental bagi Bangsa Indonesia. Dikarenakan, sejak zaman dahulu, banyak para pedagang dari luar masuk ke Indonesia dengan tujuan menyebarkan Agama di Indonesia. Sejak saat itulah Bangsa Indonesia mengenal Agama yang dibawa oleh para pedagang-pedagang. Namun karena banyaknya pedagang datang ke Indonesia yang dominan memeluk Agama Islam, tidak heran jika mayoritas masyarakat Indonesia memeluk Agama Islam. Pada awal mula dibuatnya pancasila, sila pertama ini “Ketuhanan dengan kewajiban menjalankan syariat Islam bagi pemeluknya”. Namun, ada seseorang dari Timur yang menganut Agama selain Islam mengatakan bahwa jika sila pertama tidak dirubah, maka dia tidak akan bergabung dengan Indonesia. Karena alasan itulah, para pemimpin kita kemudian merubah sila pertama dari pancasila dengan “KETUHANAN YANG MAHA ESA.” Para pemimpin kita menyadari bahwa Bangsa Indonesia memiliki penganut agama dan keyakinan yang berbeda-beda, sehingga sampai sekarang-pun Bangsa Indonesia masih warganya untuk memeluk Agama dan kepercayaannya masing-masing. Maksudnya adalah kita harus bisa menghargai agama yang dianut seseorang apapun itu.
 2.      Sila Kemanusiaan yang adil dan beradab
Aspek ini mempunyai relasi dari sila pertama. Setelah kita memahami apa arti sila pertama, tentu kita mempunyai kewajiban untuk berlaku adil dan mempunyai sikap yang beradab sesuai dari tuntutan dari agama kita masing-masing. Maka dari itu, kita sebagai warga Indonesia haruslah bersikap memanusiakan manusia dengan tidak mementingkan siapapun itu atau bagaimanapun keadaannya. Kemanusiaan yang adil dan beradab, yaitu pembentukan satu kesadaran perihal kedisiplinan, jadi asas kehidupan, karena tiap-tiap manusia memiliki potensi untuk jadi manusia prima, yakni manusia yang beradab. Manusia yang maju peradabannya pasti lebih gampang terima kebenaran dengan tulus, lebih barangkali buat mengikuti tata langkah dan pola kehidupan masyarakat yang teratur, dan mengetahui hukum universal. Kesadaran inilah sebagai motivasi membangun kehidupan masyarakat dan alam semesta untuk meraih kebahagiaan dengan usaha gigih, dan bisa diimplementasikan di dalam wujud sikap hidup yang serasi penuh toleransi dan damai.
3. Sila persatuan Indonesia
Sila ini juga memiliki relasi dari sila pertama dan kedua. Tentunya, jika manusia menyadari arti dari sila pertama dan kedua, maka secara tidak langsung akan tercipta persatuan antar sesama. Persatuan sebenarnya sudah dilakukan oleh Gajah Mada pada zaman dahulu yang menyatakan bahwa dia tidak akan kembali sebelum Nusantara bersatu. Keinginan bersatu itu, karena sadar bahwa Bangsa ini telah dijajah, baik dari jasmani maupun rohaninya. Persatuan Indonesia, bukan hanya sesuatu sikap ataupun pandangan yang sempit. Negara kesatuan Republik Indonesia terbentuk di dalam proses sejarah perjuangan panjang dan terdiri dari berbagai macam kelompok suku bangsa, tetapi perbedaan tersebut tidak untuk dipertentangkan namun justru jadikan persatuan Indonesia.
4. Sila kerakyatan yang dipimpin oleh hikmat kebijaksanaan dalam permusyawaratan perwakilan
Menjadi makhluk sosial, manusia memerlukan hidup berdampingan dengan orang lain, di dalam interaksi itu umumnya terjadi kesepakatan, dan saling menghormati satu sama lain atas basic tujuan dan keperluan berbarengan. Prinsip-prinsip kerakyatan sebagai dambaan utama buat membangkitkan bangsa Indonesia, mengerahkan potensi mereka di dalam dunia modern, yaitu kerakyatan yang dapat mengendalikan diri, dapat menguasai diri, walau ada di dalam permasalahan yang hebat untuk menciptakan perubahan dan pembaharuan. Hikmah kebijaksanaan yaitu keadaan sosial yang menampilkan rakyat berpikir di dalam step yang lebih tinggi jadi bangsa, dan membebaskan diri dari belenggu pemikiran berazaskan kelompok dan aliran spesifik yang sempit.
5. Sila keadilan sosial bagi seluruh rakyat indonesia
Nilai keadilan yaitu nilai yang menjunjung norma menurut ketidak berpihakkan, keseimbangan, dan pemerataan terhadap satu perihal. Mewujudkan keadilan sosial untuk semua Rakyat Indonesia adalah dambaan bernegara dan berbangsa. Itu seluruh berarti mewujudkan kondisi masyarakat yang bersatu dengan organik, di mana tiap-tiap anggotanya memiliki peluang yang sama untuk tumbuh dan berkembang dan studi hidup pada kekuatan aslinya. Semua usaha diarahkan pada potensi rakyat, memupuk watak dan peningkatan mutu rakyat, hingga kesejahteraan terwujud dengan merata.
Jadi kesimpulannya adalah, semua dilema dan permasalahan yang terjadi di Negara kita, kita harus kembalikan kepada dasar negara dan ideologi Bangsa kita, yaitu pancasila. Setiap sila saling terhubung. Sila kedua tidak akan ada jika tidak ada sila pertama. Sila ketiga tidak akan ada jika tidak ada sila pertama dan kedua, dan seterusnya. Sekali lagi, kita sebagai Rakyat Indonesia harus benar-mengerti makna dari pancasila. Apa yang menjadi dasar negara kita, itulah yang menjadi landasan ke depan Bangsa ini.
Demikian ulasan mengenai dinamika pancasila kita, semoga bermanfaat dan dapat menambah pemahaman untuk kita semua tentang pancasila Bangsa Indonesia. Sekian dan terima kasih..
Sumber : http://research.amikom.ac.id/index.php/SSI/article/view/5939/4382

Translate